Senin, 31 Desember 2012

analisis unsur intrinsik novel sekali peristiwa di banten selatan

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Yang dimaksud unsur-unsur intrinsik adalah unsur-unsur pembangun karya sastra yang dapat ditemukan di dalam teks karya sastra itu sendiri. Sedangkan yang dimaksud analisis intrinsik adalah mencoba memahami suatu karya sastra berdasarkan informasi-informasi yang dapat ditemukan di dalam karya sastra itu atau secara eksplisit terdapat dalam karya sastra. Hal ini didasarkan pada pandangan bahwa suatu karya sastra menciptakan dunianya sendiri yang berbeda dari dunia nyata. Segala sesuatu yang terdapat dalam dunia karya sastra merupakan fiksi yang tidak berhubungan dengan dunia nyata. Karena menciptakan dunianya sendiri, karya sastra tentu dapat dipahami berdasarkan apa yang ada atau secara eksplisit tertulis dalam teks tersebut.
Makalah ini akan mengkaji tentang unsur-unsur instrinsik yang berisi analisis tema, latar, penokohan dan perwatakan, alur, sudut pandang, simbol dan ironi, dan nilai moral dalam novel.
B.  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diambil suatu rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Apa unsur instrinsik yang ada dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer?
2.      Simbol dan ironi apakah yang terdapat dalam novel tersebut?
3.      Apa nilai moral yang terdapat dalam novel terebut?
C.  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan dari makalah ini adalah:
1.      Mengetahui unsur-unsur instrinsik yang terdapat pada novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer.
2.      Mengetahui simbol dan ironi yang terdapat dalam novel tersebut.
3.      Mengetahui nilai moral apa saja yang terdapat dalam novel tersebut.



BAB II
PEMBAHASAN
Analisis Unsur Instrinsik
A.  Tema
            Tema adalah sesuatu yang menjadi dasar cerita, menjiwai cerita, atau sesuatu yang menjadi pokok masalah dalam cerita. Tema merupakan jiwa dari seluruh bagian cerita. Ada tema yang dinyatakan secara eksplisit (disebutkan) dan ada pula yang dinyatakan secara implisit (tanpa disebutkan tetapi dipahami).
Dapat diketahui tema yang ada dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer adalah mengangkat sebuah tema mengenai sejarah masyarakat kecil yang ada pada waktu itu ditindas oleh kaum kolonial dan juga kaum pemberontak. Dalam Novel ini Pram berkecenderungan menceritakan mengenai politik dan ideologinya.
Hal tersebut dapat kita ketahui setelah membaca keseluruhan novel. Namun juga dapat diketahui dari  kutipan dibawah ini:
“: dia yang tahu, tiap rabu  malam Juragan Musa berunding dengan DI, sedang kita orang-orang miskin sama dirampoki, dibakari, dibunuhi”(hal. 37)
Yang dimaksud DI disini adalah Darul Islam sebagai kaum pemberontak yang menindas orang-orang kecil yang tidak berdaya.
Selain itu penulis juga ingin memberikan sebuah keyakinan yang meneguhkan dan bertekat kuat mengorbarkan semangat dalam menjalani kehidupan. Hal tersebut dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Kau belum banyak makan garam, Djali. Dengar. Aku sudah pernah lihat Palembang, Surabaya, Jakarta, Bandung. Dimana-mana sama saja. Dimana-mana aku selalu dengar: yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan? Kebenaran tidak akan datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar........” (hal. 77)



B.  Latar
Latar atau setting  merupakan landas tumpu  suatu cerita, yang mengacu pada pengertian tempat, hubungan waktu, dan lingkungan sosial tempat terjadinya suatu peristiwa yang diceritakan (Abrams, 1981:175). Latar berguna untuk menghidupkan cerita, selain itu latar juga berfungsi untuk menciptakan sebuah suasana yang layak, memberikan warna atau corak watak-watak tokoh dalam cerita. Panuti Sudjiman (1999:47) menjelaskan bahwa latar memberikan informasi situasi (ruang dan tempat) sebagaimana adanya.
Aminuddin dalam bukunya sekitar masalah sastra menyatakan bahwa latar terbagi menjadi dua yaitu, Latar Fisik (Physical setting) dan Latar Psikologi (Phsichology seting). Latar Fisik (Physical setting) merupakan latar yang memberikan informasi bersifat materialistis (kebendaan), sedangkan pada Latar Psikologi (Pshichologysetting) memberi informasi yang bersifat menyentuh emosi pembaca (dapat memberikan kesan-kesan tertentu, biasanya bersifat tersurat).
Dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan karya Pramoedya Ananta Toer Latar Fisik (Physical setting) dapat dilihat dalam salah satu kutipan sebagai berikut:
“Gubuk Ranta terletak di kaki gunung, terbuat dari bambu beratap rumbia. Tinggi pondoknya tidak lebih dari dua meter. Letaknya membelakangi sebuah bukit yang belum pernah digarap oleh tangan manusia, pohon-pohon raksasa tumbuh dengan liarnya dengan semak-semak padat dibawahnya.” (hal. 11)
Kutipan tersebut menyatakan pelataran tentang Gubuk tempat tinggal  tokoh Ranta yang berada di kaki gunung.
Selanjutnya adalah Latar Psikologi (Phsichology seting) yang dapat dilihat dalam salah satu kutipan sebagai berikut:
“Ireng menyingkir ke pojok bale. Rahang bawahnya bergerak-gerak gugup, sedang kedua belah tangannya nampak mencari-cari sesuatu untuk dipegangnya dalam usahanya untu menekan kegugupannya. Tenang sejenak, dan bunyi air beserta kicau burung terdengar nyata.”(hal. 16)
Latar psikologis yang dialami oleh tokoh Ireng adalah suatu ketakutan dan kegugupan yang masuk dalam dirinya saat ketahuan menyembunyikan suaminya.
Adapun unsur-unsur latar dibedakan kedalam tiga unsur pokok yaitu: latar tempat, latar waktu, dan latar sosial (Nurgiantoro, 1995:227).

a.      Latar Tempat
Latar tempat pada beranda pondok, dapat diketahui dari kutipan berikut:
“Sampai di beranda pondok Ranta mereka berhenti. Salah seorang daripadanya mengambil gendi dari cagangnya dan minum”(hal. 12)
Latar tempat pada ruang tamu, seperti dalam kutipan berikut:
Ruang tamu lebar yang terangbenderang. Sepasang sice tua setengah antik yang terpelihara baik terpasang di dekat dinding.”(hal. 40)

b.      Latar Waktu
Latar waktu menunjukkan pada siang hari menjelang dhuhur, dapat diketahui dari kutipan sebagai berikut:
Siang hari menjelang dhuhur disuatu desa di Banten Selatan. Langit amat cerah dan terik.”(hal. 40)

c.       Latar Sosial
Latar sosial dalam novel ini adalah menunjukkan sebuah keadaan yang masih terjadi dimana orang kecil suatu desa di Banten Selatan tertindas oleh para kolonial dan pemberontak. Hal tersebut dapat diketahui dari kutipan berikut:
“Mereka! Yang datang pada kita hanya untuk menyuruh kita jadi maling. Mereka! Yang hidup memisah dari kita, seperti binatang buas di rimba. Mereka, yang dalam kepalanya Cuma ada pikiran mau mangsa sesamanya. Mereka! Mereka!”(hal.21)
Dalam cerita tersebut orang-orang kecil dipaksa menjadi maling oleh kaum pemberontak yang menindas mereka.




C.  Tokoh dan Perwatakan
Tokoh merupakan individu rekaan yang dibuat oleh pengarang dan mengalami peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita fiksi. Dalam sebuah karya fiksi seperti cerpen, novel, dan sejenisnya, untuk menganalisis tokoh erat  sekali kaitannya dengan penokohan. Penokohan merupakan pelukisan atau gambaran yang jelas tentang diri pribadi seorang tokoh rekaan yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Penokohan biasanya juga sering disebut dengan watak atau perwatakan. Menurut S. Tasrif S.H (Lubis, 1978:11) dalam menentukan penokohan pada sebuah karya fiksi ada beberapa tekhnik penyajian yaitu:
a.       Physical Description, merupakan penokohan dengan cara melukiskan bentuk lahir dari tokoh secara langsung.
b.      Portrayal of thought or streams of conscious thought, merupakan penokohan dangan cara melukiskan jalan pikiran tokoh atau apa yang melintas dalam pikirannya. Dengan jalan itu pembaca dapat mengetahui bagaimana watak tokoh.
c.       Reaction to evens, yaitu penokohan dengan cara menggambarkan bagaimana watak tokoh.
d.      Direct author analysis, merupakan penokohan dengan cara menganalisis watak tokoh secara langsung.
e.       Discussion of environment, merupakan penokohan dengan cara melukiskan keadaan sekitar tokoh. Keadaan sekitar tokoh dapat memberi gambaran mengenai watak tokoh.
f.       Reaction of other to character, yaitu penokohan dengan cara menghadirkan pandangan-pandangan tokoh lain dalam suatu cerita terhadap tokoh utama itu.
g.      Conversation of other character, merupakan cara penokohan dengan menghadirkan perbincangan dengan tokoh-tokoh lain yang memperbincangkan tokoh utama. Secara tidak langsung pembaca mendapat kesan tentang segala sesuatu mengenai tokoh lain.

Tokoh Utama
Dapat diketahui tokoh utama dalam novel ini adalah Ranta, seorang pekerja keras dan kuat. Hal tersebut dapat diketahui karena sering munculnya tokoh Ranta pada cerita ini. Tokoh Ranta merupakan tokoh utamanya digambarkan melalui pendeskripsian mengenai ciri-ciri fisik (Physical Description) serta watak tokoh seperti dalam kutipan berikut:
“Tak lama kemudian datang Ranta. Ia berumur kurang lebih tiga puluh sembilan tahun. Tubuhnya tinggi lagi besar, penuh dengan otot-otot kasar, menandakan, bahwa ia banyak bekerja keras tapi sebaliknya kurang mendapat makan yang baik”(hal. 13)

Tokoh utama yang kedua dalam novel ini adalah Juragan Musa, seorang yang licik dan suka menindas rakyat kecil. Hal tersebut dapat diketahui dari pandangan tokoh lain mengenai watak tokoh (Reaction of other to character) Juragan Musa seperti dalam kutipan berikut:
Awas, Juragan Musa datang. Semua nampak kaget dan cemas....”(hal. 30)
Semua menjadi takut saat tokoh Juragan Musa datang karena memang sewenang-wenang kepada rakyat kecil.

Tokoh Pembantu (Sampingan)
Tokoh pembantu yang pertama dalam novel ini adalah Ireng sebagai istri Ranta yang patuh kepada suaminya, penakut, dan pasrah. Hal tersebut dapat diketahui dari jalan pikiran tokoh (Portrayal of thought or streams of conscious thought) seperti dalam kutipan berikut:
Kalau dipukuli orang banyak, pak, dipukuli penjaga onderming......”(hal.20)

Tokoh pembantu yang kedua adalah tokoh Yang Pertama sebagai pendatang yang menjual singkong mempunyai watak pasrah dan penakut saat menjadi korban kekerasan. Dapat diketahui dari penggambaran watak tokoh secara langsung (Direct author analysis) seperti kutipan berikut:
“Tadinya aku mau bunuh dia. Tapi lama kelamaan niatku menjadi lemah. Akhirnya aku lupakan.”(hal. 26)


Tokoh pembantu yang ketiga adalah tokoh Yang Kedua sebagai pendatang dan penjual singkong juga mempunyai watak baik dan sopan terlihat dari perbincangan yang dengan tokoh lain (Conversation of other character) kutipan berikut:
“siapa tahu dia mau berbuat keji lagi? Jadi kami memutar ke belakang rumah. Kalau ada apa-apa kami bisa segera membantu, kan?”(hal. 31)

Tokoh pembantu yang keempat adalah tokoh Nyonya sebagai istri dari Juragan Musa yang mempunyai watak yang penurut dan mudah gelisah dapat diketahui dari keadaan sekitar tokoh yang menunjukkan gambaran tentang watak tokoh (Discussion of environment) seperti dalam kutipan berikut:

“Antara sebentar ia mengawasi pintu depan. Ia nampak agak gelisah. Sejenak kemudian ia bangkit dan meninjau-ninjau pelataran melalui pintu depan. ... . nampak benar ia tak dapat menguasai kegelisahannya....”(hal. 41)

Tokoh pembantu yang kelima adalah tokoh Rodjali yang mempunyai watak jujur, sigap, dan cerdas yang tergambar secara langsung (Reaction to evens) dalam kutipan berikut:
“....sedang pada matanya tergambar kesigapan dan kecerdasan.”(hal.41)

Tokoh pembantu yang keenam adalah Komandan yang mempunyai watak pemberani, tegas, bijaksana terlihat langsung dalam kutipan berikut:
“....Ayoh, siapa punya usul yang baik?....”(hal.114)
Terlihat kebijaksanaan tokoh Komandan dalam memberikan kesempatan untuk para warga saling bertukar pikiran.

D.  Alur
Alur atau plot merupakan rangkaian peristiwa yang disusun secara logis dan kronologis, saling berkait dan yang diakibatkan atau dialami oleh para pelaku dalam cerita. (Stanton,1965: 14) mengemukakan bahwa alur atau plot adalah cerita yang berisi urutan kejadian, namun tiap kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab-akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan terjadinya peristiwa yang lain.
Berdasarkan urutan kriteria waktu, alur dibedakan menjadi dua kategori: Kronologis (alur maju/alur lurus/alur progresif) dan Tak Kronologis (alur sorot-balik/alur mundur/alur flash back/ alur regresif). Alur kronologis merupakan alur yang peristiwa-peristiwanya dijelaskan secara runtut mulai tahap awal hingga tahap akhir, sedangkan alur tak kronologis merupakan jenis alur yang ceritanya tidak selalu mulai dari tahap awal, melainkan dapat dimulai dari tahap tengah atau tahap akhir dalam cerita.
Tahap perkembangan alur secara rinci dikemukakan oleh Tasrif (Lubis,1978:10). Menurut Tasrif struktur alur terdiri dari lima bagian sebagai berikut.
a.       Situation merupakan penggambaran suatu keadaan.
b.      Genering Circumstances merupakan bagian yang menunjukkan peristiwa-peristiwa yang tersebab-akibat mulai bergerak.
c.       Rising Action adalah bagian yang memperlihatkan peristiwa-peristiwa yang mulai memuncak.
d.      Climaks merupakan bagian alur yang memperlihatkan puncak dari peristiwa-peristiwa yang telah terjadi sejak dari bagian situation.
e.       Denoument bagian alur yang ditandai oleh adanya pemecahan soal dari semua peristiwa.

Alur  di novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan adalah alur maju yang setiap peristiwanya dijelaskan secara runtut atau bisa disebut kronologis. Dapat diketahui dari tahap-tahap yang ada dalam kutipan sebagai berikut:
Situation:
“Pasar kacau, Pak. Diobrak-abrik DI.”(hal. 15)

Dari sini mulai menggambarkan suatu keadaan dimana pasar rakyat kecil yang dirusak oleh kaum pemberontak yang disebut DI (Darul Islam).

Genering Circumstances:
“Dengar, Reng. Memang aku sering nyolong. Tapi bukan karena kemauanku aku jadi maling”(hal. 20)

Dalam kutipan ini sebagai contoh kejadian mulai muncul disebabkan oleh pemaksaan dari Tokoh Juragan Musa kepada Ranta untuk menjadi maling.

Rising Action:
“Ranta melangkah keluar ambang. Bahunya tertarik ke atas, matanya terpusat pada wajah Juragan Musa, sedang kedua belah tangannya terangkat ke atas sedikit. Dengan tubuhnya yang perkasa itu, nampak seperti binatang buas hendak menerkam mangsanya”(hal. 34)

Pada kutipan diatas menunjukkan satu contoh peristiwa yang mulai memuncak seperti saat Tokoh Ranta mulai berani untuk melawan penindasan yang dilakukan oleh Juragan Musa.

Climaks:
“Komandan menggertak: Angkat tangan! Menyerah!”(hal. 71)
Akhir atau puncak dari peristiwa-peristiwa yang sebelumnya terjadi seperti dalam kutipan diatas saat Tokoh Komandan menyergap dan akhirnya menangkap Juragan Musa karena terbukti menjadi golongan pemberontak Darul Islam yang selalu menindas rakyat kecil.

Denoument:
“Satu pendurhaka dapat hancurkan seluruh kebahagiaan tiap orang. Benar! Tapi keselamatan tiap orang, seluruh bangsa, Cuma dapat dilaksanakan oleh semua orang. Pelaksanaan ini mungkin, kalau ada persatuan, kerukunan, persaudaraan.”(hal. 108)

Pemecahan masalah yang telah terjadi pada peristiwa-peristiwa sebelumnya seperti pada kutipan diatas. Pada akhirnya semua harus saling bersatu untuk melawan penindasan dan kesewenang-wenangan orang atau golongan kepada rakyat kecil.

E.  Sudut pandang
Sudut pandang merupakan sebuah sarana yang digunakan oleh pengarang untuk menyampaikan maksud. Secara garis besar Sudut pandang itu adalah cara, tekhnik, strategi, siasat yang secara sengaja dipergunakan oeh pengarang untuk mengemukakan gagasan dan ceritanya. Dalam kata lain sudut pandang itu disampaikan melalui kacamata tokoh cerita. Pengarang memandang dan menghadirkan tokoh-tokoh cerita dengan menempatkan dirinya pada posisi tertentu . sudut pandang yang sering digunakan dalam sebuah cerita antara lain :
a.    Sudut pandang orang pertama (first person of view)
Pada sudut pandang ini penulis selalu menggunakan “aku” maupun “saya”. Pada sudut pandang ini penulis ikut terlibat dalam cerita.
b.    Sudut pandang orang ketiga (third person of view)
Pada sudut pandang ini menggunaan  kata ganti orang ketiga, yaitu “dia, ia, mereka”. Penulis tidak ikut terlibat didalam cerita, hanya berada di luar cerita, yang menampilkan tokoh-tokoh cerita dengan menyebutkan nama atau kata gantinya. Sudut pandang “dia” dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
  “Dia” serba tahu. Dalam sudut pandang ini, narator dapat menceritakan apa saja hal-hal yang menyangkut tokoh “dia”. Narator bersifat serba tahu (omniscient). Mengetahui hal-hal tentang tokoh, peristiwa, dan tindakan.
  “Dia” terbatas, sebagai pengamat. Dalam sudut pandang ini penulis mempergunakan orang ketiga sebagai pencerita yang terbatas hak berceritanya. Tokoh “dia” hanya bercerita apa yang ia lihat.
Sudut pandang yang terdapat dalam novel ini adalah sudut pandang orang ketiga serba tahu. Disini penulis mengetahui setiap peristiwa yang terjadi secara terperinci seperti dalam kutipan sebagai berikut:
“Langit bermendung. Udara berwarna kelabu. Dari jarak dekat, pegunungan di depan desa itu, yang dirimbuni berbagai pepohonan hutan, berwarna kelabu hitam.”(hal. 11)

F.   Simbol
Simbol dalam karya sastra tanda yang memiliki hubungan makna dengan yang ditandakan, bersifat arbiter, sesuai dengan konvensi suatu lingkungan sosial tertentu, contoh: kata ‘stop’, atau lampu merah lalu lintas. Simbol seringkali hadir untuk menyampaikan sebuah arti dari sesuatu hal secara tidak langsung, seperti contohnya pedang yang dipegang oleh seorang tokoh dalam sebuah cerita. (Stanton 2007:64) menyatakan, dalam fiksi, simbolisme dapat memunculkan tiga efek yang masing-masing bergantung pada bagaimana simbol bersangkutan digunakan:
a.       sebuah simbol yang muncul pada satu kejadian penting dalam cerita  menunjukkan makna peristiwa tersebut,
b.      satu simbol yang ditampilkan berulang-ulang mengingatkan kita akan beberapa elemen konstan dalam semesta cerita,
c.       sebuah simbol yang muncul pada konteks yang berbeda-beda akan membantu dalam menemukan tema.
Simbol yang terdapat dalam cerita ini adalah Gotongroyong. Dapat dikatakan sebagai simbol karena dalam novel ini menceritakan kurangnya persatuan dan kebersamaan dalam melawan penindasan. Dan juga kurangnya kesadaran akan Gotongroyong dalam membangun kemajuan wilayah tersebut. hal ini dapat dibuktikan dari kutipan dibawah ini:
“Coba dari dulu kita gotongroyong begini. Dasar lebih suka ketinggalan zaman.”(hal. 110)







G. Ironi
Ironi secara etimologis berasal dari bahasa Yunani eiron yang berarti menyembunyikan. (Stanton, 1965:34) menyatakan bahwa  Ironi merupakan suatu pernyataan yang berlawanan dengan apa yang diharapkan. Ironi ini sendiri digunakan oleh seorang pengarang untuk menyebutkan suatu cara berekspresi yang mengungkapkan makna dengan cara berkebalikan. Makna fungsi ironi adalah menyembunyikan atau perbedaan antara yang diekspresikan dengan yang telah terjadi dalam arti yang sebenarnya. Ironi dapat menimbulkan daya pikat dan humor, memperkuat alur, menjelaskan sikap penulis, bahkan secara tidak langsung juga menyatakan suatu tema.
Macam-macam ironi:
a.       Ironi verbal merupakan kata kiasan yang bertentangan dengan apa yang diucapkan berdasarkan kejadian yang terjadi.
b.      Ironi Dramatis merupakan suatu kejadian yang bertentangan antara apa yang si tokoh katakan dengan apa yang diketahui oleh pembaca tentang hal tersebut menjadi sebuah kenyataan.
c.       Ironi Situasional merupakan ironi yang terjadi berupa pertentangan dengan kenyataan yang sesungguhnya.

Dalam novel ini terdapat Ironi Situasional yang dapat diketahui dari kutipan berikut:
“Dimana-mana aku selalu dengar: Yang benar juga akhirnya yang menang. Itu benar. Benar sekali. Tapi kapan?....”(hal. 77)

kutipan diatas menunjukkan sebuah keadaan dimana kebenaran menjadi sebuah hal yang sulit untuk didapatkan pada zaman sekarang.

Ada juga Ironi Dramatis saat tokoh Yang Pertama mengatakan ingin membunuh orang yang menyiksanya namun sebenarnya dia ketakutan. Hal tersebut dapat dilihat kutipan berikut:
“....Aku lari pulang. Tadinya aku berniat mau bunuh dia. Tapi lama-kelamaan niatku menjadi lemah. Akhirnya aku lupakan....”(hal. 26)



H.  Nilai Moral
Secara umum moral menyaran pada pengertian (ajaran tentang) baik buruk yang diterima untuk mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, dan sebagainya; ahklak, budi pekerti, susila (KBBI: 1994). Pesan Religius dan Kritik Sosial Pesan moral yang berwujud moral religius, termasuk didalamnya yang bersifat keagamaan, dan kritik sosial banyak ditemukan dalam karya fiksi atau dalam genre sastra yang lain. Kehadiran unsur religius dan keagamaan dalam sastra adalah setua keberadaan sastra itu sendiri. Bentuk Penyampaian Pesan Moral Secara umum dapat dikatakan bahwa bentuk penyampaian moral dalam karya fiksi mungkin bersifat langsung, atau sebaliknya tak langsung.
Bentuk penyampaian moral yang bersifat langsung identik dengan cara pelukisan watak tokoh yang bersifat uraian, atau penjelasan, expository. Bentuk penyampaian pesan moral yang bersifat tidak langsung, pesan itu hanya tersirat dalam cerita, berpadu secara koherensif dengan unsur-unsur cerita yang lain.
Nilai moral yang ada dapat dikatakan bersifat langsung menunjukkan bahwa kita tidak boleh mudah putus asa dalam menghadapi setiap masalah. Dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Kita sudah bosan putus asa. Kita takkan putus asa lagi. Kita akan perbaiki keadaan kita.”(hal. 31)
Dan juga kita harus tetap memperjuangkan kebenaran agar kita tenang dalam menjalani kehidupan. Hal tersebut juga diungkapkan secara langsung dalam kutipan berikut:
“.... Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar.......”(hal. 77)

I.     Amanat
Amanat adalah pesan yang disampaikan oleh seorang penulis yang terdapat dalam ceritanya terlepas itu baik ataupun buruk. Dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan banyak sekali amanat yang disampaikan seperti kutipan berikut:
”Hati-hatilah! Hati-hatilah! Satu orang bisa hancurkan kita semua. Tapi kesejahteraan kita harus diciptakan oleh semua kita bersama-sama. Ya, itu gotongroyong, kan?”(hal. 108)

Dalam kutipan di atas disebutkan kalau kita harus kerja keras dan juga bergotongroyong dalam membangun kemajuan bersama. Kekuatan akan ada jika kita semua mempererat persatuan dan jangan mementingkan diri sendiri.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Dalam menganalisis unsur instrinsik sebuah novel diperlukan ketelitian dan juga pemahaman yang lebih mendalam tentang cerita yang ada di dalam novel tersebut. pada novel Sekali Peristiwa di Banten selatan ini banyak sekali unsur instrinsik yang bisa temukan antara lain yaitu: tema, alur, setting (latar), sudut pandang, tokoh dan perwatakan, serta amanat. Serta dalam makalah ini juga dibahas mengenai analisis sarana cerita seperti, simbol, ironi, dan nilai moral yang terkandung dalam novel tersebut.
Inti dari cerita novel Sekali Peristiwa di Banten selatan ini adalah sebuah perjuangan untuk merdeka dari kekerasan, penindasan yang dilakukan kepada rakyat kecil. Selain itu, dalam  cerita ini penulis memberikan atau mengobarkan semangat untuk menjalani hidup lebih baik dengan pantang menyerah dan jangan putus asa.
Novel ini berhubungan erat dengan kenyataan yang sebenarnya waktu itu. Pramoedya mengangkat cerita ini dari hasil reportasenya di Banten Selatan. Pokok yang tersirat dalam novel ini hendaknya dapat tersampaikan amanat dan pesan yang ingin disampaikannya. Hal yang paling utama dalam novel ini adalah gotong royong yang tentunya terkait dengan kekeluargaan.














DAFTAR RUJUKAN

Nurgiyantoro, B. 1995. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Rampan, K. L. 1991. Apresiasi Cerita Pendek 2  Cerpenis Pria. Yogyakarta: Nusa Indah.

Sugiharti. & Ekasiswanto, R. 1999. Handout Teori Prosa Indonesia. Yogyakarta: Universitas Gajahmada.

Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra, Pengantar Teori Sastra. Jakarta: Pustaka Jaya.

Luxemburg, et.all. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: PT Gramedia.

2011. Membaca “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”. (Online). (http://Membaca “Sekali Peristiwa di Banten Selatan”   Eka Kurniawan Project.html//). Diakses pada tanggal 10 Juni 2012.






















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar